Senin, 23 Januari 2012

Benarkah Marga Girsang Bukan Cabang dari Marga PURBA???


    (Artikel berikut dikutip dari Berita Simalungun)
    "Kalau bukan sama, berarti perkawinan antara marga Purba dengan
    Girsang bukan hal yang terlarang menurut adat...!"
    Oleh : Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha, STh

    Pengantar
    Asisten Residen Simalungun dalam karya klasiknya, Simeloengoen
    menulis bahwa pada dasarnya di Simalungun sejak zaman dahulu
    kala hanya ada empat marga di Simalungun, yakni marga Sinaga,
    Saragih, Damanik dan Purba (Sisadapur). Dan memang dari
    karya-karya klasik penulis-penulis Belanda, baik Tideman maupun
    Tichelman sebagai pejabat kolonial Belanda selalu menulis
    Purba Girsang. Yang kita pertanyakan, sejak kapan penulisan
    dengan "Girsang" tanpa "Purba" itu dimulai?
    Asumsi saya berdasarkan perbincangan dengan tokoh-tokoh
    Simalungun dan para orangtua Simalungun, penulisan marga
    Girsang tanpa Purba itu masih baru, belum sampai seratus
    tahun. Pada waktu penulis bertugas di Sekretariat J-100
    di Jakarta dalam rangka penulisan sejarah GKPS tahun 2003
    kemarin, penulis berbincang-bincang dengan salah seorang
    tokoh marga Girsang yang dengan marahnya menolak ucapan
    saya yang mengatakan Girsang itu merupakan sub sib atau
    cabang dari marga Purba. Beliau dengan marahnya mengatakan,
    "Girsang adalah Girsang bukan Purba, kami marga Girsang
    bukan masuk cabang marga Purba tetapi masuk ke cabang marga
    Sihombing Lumbantoruan." Dan memang Bapak Brigjend TNI (Purn)
    Djorali Purba Dasuha sebagai Ketua Umum Harungguan Purba
    se-Jabotabek menginformasikan kepada penulis bahwa dari 24
    cabang marga Purba Simalungun yang mengaku berasal dari
    Simalungun, marga Girsang akhirnya keluar dari perkumpulan
    marga Purba Simalungun tersebut karena ngotot tidak mengakui
    Girsang bercabang dari induk marga Purba Simalungun.

    Berangkat dari persoalan di atas, timbul pertanyaan di kalangan
    kaum muda - kalau benar marga Girsang bukan masuk Purba,
    berarti marga "Girsang" itu tidak sama dengan Purba, dan karena
    menurut mereka, Girsang berketurunan dari marga Sihombing
    Lumbantoruan berarti Girsang merupakan cabang dari marga etnis
    Batak Toba. Dan jika memang benar bukan cabang dari marga
    Purba mengingat Hukum Adat Perkawinan Simalungun hanya
    melarang perkawinan "nasamorga" berarti, karena Girsang dan
    Purba merupakan dua margayang berbeda, maka tidak ada
    larangan lagi menurut adat yang menghalangi perkawianan
    antara marga Girsang dengan marga Purba, karena yang dilarang
    menurut adat perkawinan Simalungun adalah kawin semarga karena
    dianggap masih satu keturunan dari nenek moyang yang sama.
    Polemik asal marga Girsang Tideman dalam karya, Simelongoen
    menuliskan, bahwa Si Girsang yang merupakan leluhur dari raja
    Silimakuta yang menggantikan mertuanya tuan Nagasaribu
    bermarga Sinaga berasal dari Lehu Sidikalang Pakpak Dairi.
    Dari silsilah raja Silimakuta diperkirakan ketibaan Girsang
    di Naga Mariah diperhitungkan sekiar pertengahan abad XVIII.
    Sedang pengangkatan Naga Saribu menjadi kerajaan barulah
    sejak tahun 1907 dengan nama Kerajaan Silimakuta.

    Di sini saya kutip uraian Tideman dalam bukunya Simelongoen
    tentang asal-usul raja Silimakuta : "Raja yang pertama berasal
    dari Lehu(Sidikalang Pakpak Dairi) bernama Si Girsang. Ketika
    ia berburu sampailah ia ke Tanduk Banua (Sipiso- piso). Di sana
    tiba-tiba dijumpainya Horbo Jagat (kerbau bulai) dan menyangka
    di sekitarnya ada kampung. Ia lalu memanjat pohon tinggi dan
    melihat ada kampung besar merga Sinaga bernama Naga Mariah.
    Ia pergi ke sana dan tinggal di situ. Pada suatu ketika Tuhan
    Naga Mariah. Ia pergi ke sana dan tinggal di situ. Pada suatu
    ketika, Tuhan Naga Mariah terancam musuh dari Siantar yang
    sedang berkemah di Paya Siantar dekat kaki Gunung Singgalang.
    Tuhan Naga Mariah mengharapkan bantuan dari Si Girsang
    mengusir musuh. Si Girsang menyuruh penduduk mengumpulkan
    sebanyak mungkin bermacam- macam duri dan diambilnya
    cendawan merah, diperasnya dalam air, racunnya diletakkannya
    pada duri-duri dan diletakkan di sepanjang jalan yang bakal
    dilalui musuh., sedangkan air yang beracun itu dimasukkannya
    ke dalam Paya Siantar. Musuh oleh karena itu semuanya mati
    kena racun.Ia melapor kepada Tuhan Naga Mariah dan berkata,
    "Nunga mate marsinggalang saribu di dolok i!" (beribu-ribu
    musuh sudah mati bergelimpangan di gunung itu), sehingga
    gunung itu dinamakan Dolok Singgalang dan namanya Saribu
    Dolok. Si Girsang lalu kawin dengan puteri dari Tuhan Naga
    Mariah dan karena ahli mencampur racun dinamai Datu Parulas.
    Setelah raja itu mati maka Datu Parulas ini naik tahta dan
    mendirikan kampungnya Naga Saribu yang menjadi ibukota.
    Kerajaannya dinamainya Si Lima Kuta karena dalam kerajaannya
    ada lima kampung yaitu: Rakutbesi, Dolok Panribuan, Saribu
    Djandi, Mardingding dan Nagamariah. Setiap puteranya menjadi
    tuhan di Rakutbesi, Dolok Panribuan, Saribu Djandi,
    Mardingding dan Naga Mariah. Kemudian lahir lagi dua putera,
    yang tertua mendirikan kampung Janji Malasang dan mendirikan
    kerajaan kecilbenama Bage. Yang bungsu menggantikan Datu
    Parulas. Baru di tahun 1903 Kerajaan Bage tunduk di bawah
    Kerajaan Silimakuta."

    Bagaimana dengan Purba Girsang di Dolog Batu Nanggar?
    Dari tulisan Tideman tersebut dapat dismpulkan, bahwa Si
    Girsang tidak diketahu bermarga apa, yang jelas, namanya Si
    Girsang. Jadi kalau ada kalangan marga Girsang yang mengatakan
    Girsang bukan cabang dari marga Purba, ini dapat diterima,
    karena itu adalah hak yang bersangkutan. Namun yang perlu
    dipertanyakan lagi, menurut Tideman - tentunya ia mencatat
    informasi dari kalangan raja Silima Kuta - asal dari pemburu
    Si Girsang dari Lehu di dekat Sidikalang (afkomstig Lehu Pakpak
    Dairi). Di sana Tideman menulis "afkomstig" = berasal dari,
    jadi belum tentu "berketurunan" dari penduduk asli Lehu yang
    Etnis Pakpak,boleh jadi ia hanya singgah di sana dan seterusnya
    mengembara ke Simalungun. St. Djaidin Girsang dalam tulisannya
    tentang "Kisah Si Girsang Parultop- ultop Jadi Raja Silimakuta"
    (Medan, 1995:123-124) menulis (terjemahan bahasa Simalungun
    dialek Silimakuta), "Konon menurut cerita turun temurun,
    kelahiran Si Girsang ditengarai masalah di kalangan orang ramai,
    ini disebabkan kelahiran Si Girsang yang tidak lazim
    (marbalutan) tidak seperti biasanya. Tanggapan khalayak simpang
    siur dan masing-masing membuat tanggapannya sendiri, ada yang
    mengatakan "anak panunda" bayi yang baru lahir ini, ada yang
    mengatakan anak keramat, ada yang mengatakan anak sial dan
    lain-lain. Demikianlah tanggapan banyak orang, dan ada lagi
    yang mengatakan, "tidak patut anak ini dibiarkan hidup....;
    jadi timbullah usul orang ramai agar bayi tersebut dibunuh
    agar jangan mendatangkan kesialan pada seisi kampung. Ibu Si
    Girsang adalah perempuan dari Lottung Sinaga, ia sangat
    masygul melahirkan Si Girsang, jadi disembunyikanlah Si
    Girsang di luar kampung agar dapat dipantau ibunya
    siang dan malam, tidak tega hatinya membiarkan anaknya
    dibunuh...setelah itu dinamailah ia Si Girsang mengingat
    penderitaannya itu." Dari beberapa sumber di atas
    disimpulkan, bahwa bayi yang disembunyikan oleh ibunya itu
    berasal dari keluarga biasa (rakyat kebanyakan) karena disebut
    sebagai "penghuni kampung" (berbeda dengan leluhur raja-raja
    Simalungun yang seluruhnya berasal dari kalangan bangsawan);
    uraian Djaidin Girsang juga tidak menyebut Si Girsang
    berketurunan dari kalangan raja. Biasanya panglima-panglima
    perang (raja goraha) raja Nagur (kerajaan tertua di Sumatera
    Timur) yang kemudian menjadi raja di Simalungun adalah kawin
    dengan panakboru (puteri raja) dari raja Nagur bermarga
    Damanik, seperti raja Tanoh Djawa (Sinaga), Silou (Purba
    Tambak), Panei (Purba Dasuha), tetapi Si Girsang tidak
    demikian. Setelah dewasa menurut uraian St. Djaidin Girsang ia
    kawin dengan puteri Tuhan Naga Mariah bermarga Sinaga yang
    kemudian "terusir" dari Naga Mariah dan sebagian keturunannya
    pindah ke Karo (Batu Karang) dan Girsang Sipangan Bolon Parapat.
    Ini membuktikan kenyataan sejarah kalau Si Girsang adalah
    pendatang dari luar Simalungun - dan bukan rakyat Nagur pada
    mulanya.

    Kerajaan Nagur dengan daerah vasalnya Kerajaan Dolog Silou
    masih berkuasa atas Purba, Raya dan Nagasaribu, karena status
    ketiganya adalah "partuanan banggal" Kerajaan Dolog Silou
    sebelum ditingkatkan menjadi "landschap" pada zaman Belanda
    sejak 1907 (Korte Verklaring). Jadi kalau dirunut dari jalan
    sejarah di atas, keberadaan marga Girsang di Silimahuta
    (kecuali di partuanan Dolog Batu Nanggar-Panei) Simalungun
    masih baru; sekitar pertengahan abad XVIII. Dan jika dilihat
    dari penolakan marga Girsang yang tidak mengakui Girsang
    merupakan cabang marga Purba (khususnya yang berasal dari
    Silimakuta), cukup menegaskan kenyataan sejarah kalau Si
    Girsang yang menurunkan marga Girsang di Silimakuta baru
    sejak zaman Belanda atau tepatnya pada tahun 1907 berstatus
    kerajaan di Silimakuta dan bukan seketurunan dengan marga
    Purba Tambak yang menurunkan raja-raja Silou, Panei dan Dolog
    Batu Nanggar (Purba Tambak, Purba Sigumonrong, Purba Sidasuha,
    Purba Sidadolog, Purba Sidagambir, Purba Siboro, Purba Tanjung
    dan Purba Girsang).

    Yang membingungkan lagi dalam Pusataha Parpandanan Na Bolag
    yang menceritakan sejarah perpecahan Kerajaan Nagur di abad
    XIV, ada disebut-sebut nama tokoh Si Girsang Doriangin.
    Demikian pula di sejarah Kerajaan Dolog Silou ada disebut
    Si Juhar marga Purba Girsang yang menurunkan marga Purba
    Girsang keturunan Tuan Badja Purba Girsang tuan Dolog Batu
    Nanggar (Saribulawan). Mengingat marga Girsang di Nagamariah
    baru ada di pertengahan abad XVIII sedangkan marga Purba
    Girsang di Dolog Batu Nanggar sudah ada setidaknya di abad
    XV yang hampir bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Dolog
    Silou; apakah tidak tertutup kemungkinannya jika Si Girsang
    yang berangkat dari Lehu menuju Nagamariah adalah cucu buyut
    dari Tuan Partanja Batu Purba Girsang dari Dolog Batu Nanggar
    sebagaimana uraian TBA Purba Tambak dalam bukunya Sejarah
    Simalungun ? Atau alternatif kedua, Si Girsang merupakan
    "pendatang baru" yang bukan kerketurunan dari Tuan Dolog Batu
    Nanggar? Dugaan penulis makin kuat karena pada saat penulis
    bertugas di GKPS Resort Sumbul, dalam suatu kesempatan hal
    ini pernah penulis tanyakan kepada serang pengetua adat
    Pakpak (pertaki) bermarga Solin, pada saat mana sedang gencar-
    gencarnya pembangunan Tugu Girsang di Lehu. Beliau menjelaskan
    kepada penulis, bahwa sepengetahuannya, Girsang itu bukan
    marga Etnis Pakpak, dan tanah lokasi pembangunan tugu itu
    sendiri bukan tanah adat marga Pakpak, tetapi tanah adat marga
    Batanghari dari etnis Pakpak yang dibeli oleh marga Girsang
    dari Saribudolok. Jadi Girsang bukan "marsanina" dengan Purba?

    Meminjam ungkapan budayawan Simalungun Pak Mansen Purba, SH
    dalam bukunya "Pangarusion pasal Adat Perkawinan Simalungun"
    yang mengatakan, "seng dong hinan batta Simalungun,
    parsaninaon halani nasamorga, tapi halani na sahasusuran do.
    Age pe dos morga, lape tottu ai na sahasusuran. Aima ase
    dong panggoranion i pudini morga in, tanda ni na sada
    hasusuran ope." Jelasnya menurut beliau, di Simalungun
    "marsanina" bukan karena "satu marga" atau dari marga yang
    sama, tetapi dilihat dari sejarah asal-usulnya. Kalau dari
    seketurunan nenek moyang yang sama, maka disebut "marsanina"
    kalau sebaliknya, biar marganya sama, kalau masing-masing
    tidak mengakui nenek maoyangnya seketurunan, maka jelas
    bukan "marsanina". Jadi berdasarkan rumusan ini, maka di
    antara marga Purba yang dapat disebut 'marsanina" adalah
    keturunan dari raja-raja Silou dan Panei dengan partuanan-
    partuanannya, seperti Purba Tambak (raja Dolog Silou), Purba
    Sigumonrong (Tuan Lokkung), Sidasuha (raja Panei), Sidadolog
    (Tuan Sinaman), Sidagambir (Tuan Raja i Huta), Tanjung
    (Tuan Tanjung Purba), Siboro (Tuan Siboro) dan Girsang
    (Tuan Dolog Batu Nanggar). Karena seluruh cabang marga Purba
    ini menurut Pustaha Bandar Hanopan berasal dari nenek moyang
    yang sama Tuan Djigou Purba dari Tambak Bawang yang datang
    dari Gayo (Aceh) atau dari Pagarruyung.

    Dan kalau raja Silimakuta yang merupakan keturunan dari Si
    Girsang dari Lehu itu di pertengahan abad ke-18 masuk ke
    Naga Mariah mengaku bukan bercabang dari marga Purba,
    kalau demikian ia bukanlah suku Simalungun, karena sejak
    zaman dahulu suku Simalungun terdiri dari empat cabang marga
    saja, yakni Sinaga Saragih, Damanik dan Purba. Dan memang
    baik Tuan Dolog Batu Nanggar bermarga Purba Girsang dan
    saninanya raja Panei bermarga Purba Dasuha masing-masing
    mengambil permaisuri dari puteri raja Siantar bermarga
    Damanik, sementara kita lihat di Silimakuta permaisuri
    Silimakuta bukan dari Siantar, tetapi dari Tongging bermarga
    Munthe.Ini merupakan suatu fakta yang patut dipertimbangkan
    dalam memutuskan apakah memang Purba Girsang di Silimakuta
    dan Dolog Batu Nanggar itu dari keturunan nenek moyang yang
    samakah atau berbeda?

    Penutup
    Penulis memang sadar kalau tulisan ini akan menimbulkan
    kontroversial di kalangan etnis Simalungun, khususya di
    kalangan marga Girsang dan Purba Simalungun. Tetapi
    mengingat falsafah etnik Simalungun "Habonaron do Bona"
    ini layak untuk dituntaskan oleh pengetua adat Simalungun.
    Jangan sampai akibat pengakuan marga Girsang ini
    menyebabkan kegalauan di kalangan generasi muda Simalungun.
    Dan kalau memang Girsang tetap ngotot tidak mengakui
    dirinya bercabang dari marga induk Purba Simalungun,
    agar kelar dan tidak menimbulkan kesimpang siuran di
    tengah-tengah masyarakat, alangkah bijaknya, apabila
    hal ini dibahas dengan melibatkan para sejarawan, apakah
    benar "Girsang bukan cabang dari marga Purba?" Kalau
    memang benar, sepantasnyalah diumumkan dan
    disosialisasikan kepada masyarakat luas, sehingga
    perkawinan antara marga Purba dengan Girsang bukan lagi
    sesuatu hal yang terlarang menurut adat Simalungun.
    Karena yang dilarang menurut adat adalah "mardawan begu"
    atau saling kawin mawin dengan pasangan yang semarga.
    Sehingga kedudukan marga Girsang di Simalungun jelas,
    dan para kaum muda yang ingin mencari pasangan
    hidupnya juga tidak ragu-ragu. Semoga bermanfaat.

    Penulis adalah seorang pendeta GKPS bermarga Purba
    tinggal di Tepian Danau Toba Tongging-Taneh Karo Simalem

    baca selengkapnya: http://groups.google.com.pe/group/lumbantoruan/browse_thread/thread/5ae1aa480f12463a

      Tidak ada komentar:

      Poskan Komentar

      My self

      My self
      Enjoy
      Ada kesalahan di dalam gadget ini